Propertiplus.id, Jakarta- Bank Indonesia (BI) memutuskan tidak menaikkan BI-Rate meski bank sentral Amerika Serikat (AS), The Fed, untuk pertama kalinya setelah 3 tahun menaikkan suku bunga.
Gubernur BI, Destry Damayanti, mengatakan keputusan tersebut diambil setelah bank sentral melakukan asesmen terhadap kondisi perekonomian nasional, termasuk ruang pertumbuhan yang masih tersedia.
“Karena kami juga melakukan assessment, bahwa ternyata ekonomi kita ini, masih bergerak di bawah potensial levelnya. Atau kita biasanya menyampaikan output gap-nya masih negatif. Kalau dia masih negatif berarti, masih ada ruang untuk pertumbuhan ekonomi, tanpa mengakibatkan kerjanya inflasi,” kata Destry dalam rapat bersama Komisi XI DPR RI, Jakarta, Senin (28/9).
Baca Juga: BI Masih Enggan Turunkan Bunga Acuan, Berikut Alasannya
Destry mengatakan, keputusan suku bunga BI tidak semata-mata mengikuti arah kebijakan The Fed. BI melakukan asesmen terhadap dampak setiap kebijakan terhadap perekonomian domestik, terutama karena stabilitas harga tetap menjadi anchor kebijakan moneter.
Destry mengatakan kondisi inflasi saat ini masih berada dalam level yang nyaman. Core inflation juga masih berada di kisaran 2 persen.
Di sisi lain, BI menghitung kenaikan suku bunga dapat memberikan dampak terhadap pertumbuhan ekonomi. Berdasarkan asesmen BI, kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin dapat menurunkan pertumbuhan ekonomi sekitar 0,1 persen.
“Anchor kami tetap melihat inflasi, karena begitu besar dampak inflasi, termasuk assessment kami juga melihat, kalau unit naik 25 basis point, maka pertumbuhan ekonomi akan turun sekitar 0,1 persen, itu dari assessment kami. Jadi artinya tidak ada faktor-faktor lain. Kalau unit naik 1 persen, kalau unit naik 25 basis point, jadi 0,25 persen, maka ekonomi growth itu akan turun 0,1 persen,” jelas Destry.
Ia menggambarkan, jika pertumbuhan ekonomi berada di level 5,4 persen, kenaikan suku bunga tersebut dapat membuat pertumbuhan ekonomi turun menjadi sekitar 5,3 persen.
Sehingga BI memilih menggunakan kombinasi kebijakan untuk menjaga stabilitas, sekaligus memberikan ruang bagi pertumbuhan ekonomi. Salah satunya melalui kebijakan yang lebih tertarget dibandingkan menaikkan suku bunga secara umum.
Destry mengatakan, BI memberikan insentif biaya hedging untuk mendorong masuknya aliran dana tanpa harus menaikkan suku bunga maupun suku bunga SRBI. Kebijakan tersebut telah mendorong aliran dana melalui DNDF maupun swap sekitar USD 6 miliar.
Menurut Destry, pendekatan tersebut diperlukan karena kenaikan suku bunga akan memberikan dampak yang lebih luas terhadap perekonomian. Sementara kebijakan yang lebih targeted memungkinkan BI memberikan stimulus pada bagian tertentu tanpa memberikan tekanan yang sama terhadap seluruh sektor ekonomi.
“Jadi kita berusaha mencari inovasi-inovasi kebijakan lain, supaya dampak itu tidak general terhadap ekonomi. Karena kalau menaikkan BI itu, dampaknya langsung kena semuanya,” tukasnya.



![BI Masih Enggan Turunkan Bunga Acuan, Berikut Alasannya 8 Ilustrasi Foto: Pembanguan klaster perumahan di township Paramount Petals. [Foto: dok. Propertiplus.id]](https://propertiplus.id/wp-content/uploads/2026/09/WhatsApp-Image-2026-09-28-at-22.25.38-120x86.jpeg)





